featured-content
Akibat ACFTA Pasar Garmen Lokal Turun Hingga 15%
Senin, 31 Mei 2010 - 07:22 wib
JAKARTA - Asosiasi Pemasok Garmen dan Aksesori Indonesia (Apgai) merasa khawatir dengan implementasi perjanjian ASEAN-China Free Trade Agreement (ACFTA) yang berlangsung tahun ini akan membuka keran impor produk garmen ilegal.
Pasalnya, banjirnya impor ilegal akan menggerus pasar para pemasok aksesori dan garmen di Indonesia.
"Impor dari China pada bulan Juli keatas akan banyak masuk. Tapi saya belum tahu jumlahnya. Mungkin akan terjadi penurunan pasar hingga 10-15 persen. Setelah berlaku ACFTA, pasar impor bertambah 12 persen," ujar Sekretaris Jenderal Apgai Farid Magenda di Jakarta.
Farid menuturkan, biasanya garmen impor ilegal lebih banyak dibeli oleh konsumen dari kelas menengah ke bawah. Sementara konsumen dari
kelas atas, menurutnya lebih suka berbelanja di luar negeri.
"Tiap tahun yang belanja ke luar negeri naik 25-30 persen. Padahal produk yang mereka beli disana, sudah bisa diproduksi di dalam negeri," tuturnya.
Selain ACFTA, menurut Farid, hambatan lainnya adalah kenaikan tarif, misalnya TDL. "Jangan ada kenaikan tarif dulu. Pasar dalam negeri sedang recovery. Tunggu pasar domestik stabil dulu, baru pemerintah boleh menaikkan tarif," imbuhnya.
Farid menambahkan, ekspor garmen ke berbagai negara tujuan seperti Eropa dan Amerika Serikat (AS) sudah mulai pulih sekarang ini.
Menurut data Indotextiles.com, total ekspor produk garmen pa
da 2009 yakni USD1,44 miliar pada kuartal I-2009 menjadi USD1,56 miliar di kuartal I-2010. Sekitar 50 persen dari total ekspor garmen tersebut diserap pasar AS. Namun, ekspor garmen dan pakaian jadi ke pasar AS pada kuartal I-2010 hanya naik 2,7 persen dari rata-rata penaikan tahunan sebesar 10 persen.(Sandra Karina/Koran SI/wdi)
Sumber : www.okezone.com
Keroncong Masuk Kurikulum Pelajaran di Malaysia

Jum'at, 28 Mei 2010 | 00:08 WIB
TEMPO Interaktif, Surakarta - Musik keroncong yang merupakan budaya asli Indonesia ternyata tidak bisa menjadi tuan rumah di negeri sendiri. Saat ini musik keroncong justru tengah berkembang pesat di Malaysia. Mereka juga mempromosikan musik keroncong melalui radio serta televisi kabel ke berbagai belahan dunia.
Wakil Ketua III Himpunan Artis Musik Keroncong Indonesia Jawa Tengah, Wartono, mengatakan jika pelajaran musik keroncong telah menjadi kurikulum di berbagai sekolah di Malaysia. "Artinya musik keroncong memang sangat dihargai di negara itu," kata Wartono ketika ditemui di sela Gelar Pentas Keroncong 12 Jam di Surakarta, Kamis (27/05).
Wartono juga mengatakan jika Malaysia saat ini cukup gencar mempromosikan musik keroncong ke berbagai negara melalui siaran radio serta televisi kabel. Hal itu membuat banyak warga Eropa yang mengira musik keroncong berasal dari Malaysia.
Meski demikian, perkembangan musik keroncong di Malaysia harus ditanggapi secara positif oleh warga Indonesia sebagai pemilik asli musik keroncong. "Sebab hal itu membuktikan jika musik keroncong mulai mendunia," kata Wartono. Menurutnya, Indonesia hanya membutuhkan pengakuan jika musik keroncong merupakan budaya asli dari Indonesia.
Kondisi tersebut diharapkan mampu menumbuhkan kesadaran bagi para seniman dan pemerintah untuk dapat mengembangkan musik keroncong di tanah air. "Saat ini bisa dibilang musik keroncong terus menurun popularitasnya di Indonesia," kata dia.
Di Surakarta misalnya, saat ini tinggal terdapat sekitar 34 kelompok musik keroncong yang masih tercatat. Beberapa di antaranya saat ini sudah tidak beraktivitas lagi.
AHMAD RAFIQ
Sumber TEMPO.com
